Adanya MRT Mampu Kerek Harga Properti Komersial

Adanya kereta massal mass rapid transit atau moda raya terpadu (MRT) di DKI Jakarta akan mengubah peta properti komersial di Ibu Kota.

MRT-jakarta

Nilai tawar hunian di sekitar rute MRT akan meningkat. Artinya, sasaran tempat tinggal pun kini tidak hanya fokus di tengah kota, karena MRT menawarkan akses transportasi yang cepat dan nyaman dengan tarif cukup terjangkau hingga ke pinggiran kota.

Baca Juga :

– Keuntungan Investasi Condotel
– Sektor Properti Cibubur Kian Bersinar adanya Proyek Infrastruktur
– Ibu Kota RI Pindah 2024 Biaya Diperkirakan Rp466 T
– Ibu Kota RI Pindah 2024 Hampir Pasti di Kalimantan

Di Jabodetabek, misalnya, dengan hunian yang dekat MRT, orang tidak perlu beli apartemen di tengah kota atau tinggal di tengah kota. Dia bisa tinggal di Lebak Bulus yang dengan waktu tempuh 30 menit tanpa macet sampai ke kawasan Sudirman.

Karena itu, pengamat properti Ali Tranghanda menilai properti di sekitar stasiun MRT akan meningkat. “Nilai investasinya akan terus melejit,” katanya.

Pengamat properti, Marine Novita juga mengatakan, hadirnya moda transportasi MRT di Jakarta dinilai akan meningkatkan harga properti yang berada di sekitar rel.

Membentang sepanjang 16 kilometer, dimana 10 kilometernya merupakan jalur layang, dan menghubungkan kawasan Bunderan HI, Jakarta Pusat hingga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, keberadaan MRT akan efektif dalam menstimulasi potensi investasi diantara kedua kawasan tersebut.

Marine Novita mengatakan, terealisasinya MRT Jakarta fase 1 akan mendongkrak harga properti karena meningkatkan konektivitas, akses masyarakat, dan memangkas waktu perjalanan.

“Harga tanah dan aset properti di sekitar wilayah Jalan Thamrin, Sudirman, Blok M, Fatmawati dan TB Simatupang yang dilalui jalur MRT ini akan terdongrak. Sedangkan wilayah sekitar Lebak Bulus dan TB Simatupang bisa menjadi kawasan pusat niaga baru di Jakarta Selatan,” ujarnya.

Perkembangan properti di Jakarta Selatan juga tak lepas dari faktor perkembangan properti di ruas jalan TB Simatupang, yang berubah menjadi kawasan bisnis baru. Kemunculan gedung-gedung perkantoran baru diimbangi dengan munculnya hunian-hunian baru, khususnya apartemen.

Menurut Marine, kehadiran MRT Jakarta juga bisa mendorong masyarakat yang selama ini tinggal di pinggiran Jakarta untuk kembali tinggal di tengah kota.

Apalagi, menurut data Diskominfo DKI Jakarta, kepadatan penduduk di kelurahan-kelurahan yang memiliki stasiun MRT rata-rata kurang dari setengah dari kepadatan per kelurahan di DKI Jakarta yaitu 22.483 jiwa/km.

“Hal ini bisa dijadikan agenda pemerintah untuk melakukan pemerataan kepadatan penduduk ke wilayah yang kepadatannya masih rendah dan dekat dengan stasiun MRT,” tambahnya [krn/jkt]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *