Generasi Milenial Butuh Intervensi Agar Miliki Rumah

Pandawa Property. Generasi Milenial ternyata belum sepenuhnya menjadi perhatian pemerintah dan otoritas perbankan, sebagai sasaran kebijakan, guna bisa membeli atau memiliki rumah.


Padahal, jumlah generasi milenial sangat signifikan. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), generasi milenial pada 2020 akan mencapai 35 persen dari total populasi rakyat Indonesia atau sebanyak 75 juta jiwa. Mereka juga menjadi pangsa terbesar dari angkatan kerja di Indonesia saat ini, yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 22,5 juta orang.

Baca Juga :
Pasang Panel Surya di Atap Rumah Harus Izin PLN
Tips Menabung DP Rumah untuk Pekerja Kantoran
Alasan Jepang Bagi-Bagi Rumah Telantar Gratis
Berikut Tips Jual Rumah Zaman Now Biar Cepat Laku

Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman melihat perhatian pemerintah kepada generasi milenial sebetulnya sudah tampak di beberapa sektor. Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan, sering mengatakan bahwa generasi milenial adalah tulang punggung ekonomi Indonesia masa depan.

Menurut Amran, kebanyakan dari milenial, income-nya sudah di atas Rp5 juta, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan subsidi perumahan dari pemerintah. Sementara itu, untuk membeli rumah komersial dengan harga Rp300-500 jutaan pun sulit.

Untuk itu, ia mengusulkan, supaya generasi milenial bisa memiliki hunian, mereka sebaiknya diberi fasilitas membeli rumah semi MBR dengan harga Rp140 juta – Rp500 juta, dengan 50 persen subsidi Fasilitas Likuiditas Pembangunan Perumahan (FLPP).

Sementara itu, di sisi pajak, mereka juga diberi keringanan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh).

“Generasi milenial ini perlu disentuh program subsidi, supaya income mereka bisa dibelanjakan secara produktif. Tarik mereka membeli hunian yang bisa menjadi aset produktif bagi mereka. Kalau tidak, maka generasi milenial ini bisa menggerus devisa, karena mereka cenderung lebih memilih traveling ke luar negeri,” ungkapnya.

Pentingnya KPR Khusus Generasi Milenial
Besarnya potensi pasar perumahan generasi milenial diaminkan Ketua Kehormatan REI, Lukman Purnomosidi. Karena itu, menurutnya, harus disikapi otoritas perbankan dengan memberikan berbagai kemudahan.

Regulator, lanjutnya, harus membuat formulasi,skim-skim baru bagi generasi milenial, agar mereka mampu memiliki rumah sendiri. Lukman berkeyakinan, meski anak muda makin sulit membeli rumah, namun mereka bisa diselamatkan dengan insentif khusus, agar bisa membeli rumah dengan rentang harga Rp200 juta hingga Rp500 juta,

“Mereka mampu kok mencicil Rp3 juta hingga Rp6 juta per bulan. Namun, harus diberi insentif supaya aware untuk membeli rumah,” tambahnya.

Ketua DPP REI 2004-2007 itu berharap, segera ada kebijakan di sektor perumahan untuk milenial, agar bisa juga mengubah kebiasaan dan gaya hidup konsumtif mereka dan mengalihkan kesadaran akan kebutuhan atas hunian.

Ditemui di tempat terpisah, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI, Soelaeman Soemawinata, mengatakan kelompok milenial berusia 25 hingga 35 tahun dengan rentang penghasilan antara Rp8 juta hingga Rp20 juta-an per bulan menjadi target pangsa pasar bagi industri perumahan.

“Kelompok primer ini merupakan target end-user. Mereka belum memiliki rumah, karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk bayar uang muka pembelian rumah. Selama ini, penghasilannya selalu habis untuk membiayai gaya hidup yang mahal seperti bergonta-ganti gawai, traveling ke lokasi tujuan wisata, atau hang-out di restoran dan kafe,” kata Eman, sapaan akrabnya.

Sialnya lagi, kata Eman, kebanyakan dari generasi milenial yang telanjur punya gaya hidup mewah dan berkantong pas-pasan ini, maunya bertempat tinggal di apartemen di tengah kota. Padahal, penghasilannya tidak akan mampu mencicil atau sekadar membayar uang mukanya saja.

“Pertanyaannya, apakah generasi milenial ini mau menurunkan sedikit saja gengsinya itu untuk membeli rumah di pinggiran kota,” tuturnya.

Menurut Eman, pemangku kebijakan dan pelaku usaha pembangunan perumahan harus memikirkan upaya penyediaan fasilitas hunian dengan pola kepemilikan bagi generasi milenial. Pelaku usaha pengembangan perumahan harus membuat inovasi dengan menyediakan hunian seharga Rp400 juta-an hingga Rp600 juta-an bagi generasi milenial

Hitungannya, rumah seharga itu dapat dibeli dengan cara mencicil kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan selama 15 tahun.

“Itu untuk generasi milenial dengan rerata penghasilan Rp18 juta per bulan, karena asumsi maksimal cicilan KPR adalah sepertiga gaji,” kata Presiden Federasi Realestat Dunia (FIABCI) Regional Asia Pasific ini.

Lalu, bagaimana dengan generasi milenial yang penghasilannya di kisaran Rp8 juta-an? “Rata-rata penghasilan generasi milenial yang baru menyelesaikan pendidikan dan baru mulai bekerja adalah Rp8 juta-an. Untuk kelompok ini, harus disediakan fasilitas KPR dengan cicilan Rp2,5 juta per bulan,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *